RESENSI
BUKU SOEKARNO FATMAWATI SEJARAH KISAH CINTA KLASIK
Identitas
Buku
Judul buku : Soekarno Fatmawati Sejarah
Kisah Cinta Klasik
Penulis buku : Adhe Riyanto
Penerbit buku : Kanal Publika
Kota terbit : Yogyakarta
Tahun terbit : 2012
Jumlah halaman : 128
SINOPSIS SOEKARNO FATMAWATI SEJARAH KISAH CINTA KLASIK
Kisah cinta
Soekarno dan Fatmawati adalah catatan
penting dalam sejarah Indonesia. Karena sebagai bukti besarnya peran mereka
dalam perjuangan kemerdekaan. Buku ini diterbitkan untuk masyarakat umum untuk
membantu mereka yang ingin mengetahui kisah cinta presiden Soekarno. Berisi
tentang perjalanan Soekarno dalam menjalani kisah asmara beliau yang menarik
untuk kita ketahui. Tidak hanya menceritakan kisah cinta dengan Fatmawati tetapi juga
menceritakan kisah cinta dengan istri-istri lainnya.
Soekarno, proklamator dan presiden pertama Republik
Indoneisia, mungkin merupakan contoh klasik yang tragis: seorang pemimpin
idealistis yang dirusak oleh kekuasaan dan dikhianati oleh kebanggaan dirinya yang
terlalu besar. Ia lahir di Blitar, Jawa timur pada tanggal 6 Juni 1901. Semasa
kecil, ia tidak pernah mengenal tradisi makan dengan menggnakan sendok dan
garpu. Bahkan di Hari Rata Idul Fitri, ia hanya bisa menatap sedih ketika
teman-temannya membeli petasan seharga satu sen. Untuk makan sehari-hari
Soekarno hanya makan ubi kayu dan jagung, itupun hanya sekali sehari. Membeli
beras yang murah pun sang ibu tidak sanggup. Mungkin karena tumbuh dalam
kondisi serba terbatas itulah Soekarno kecil sering sakit.
Soekarno kemudian tinggal bersama kakeknya, Raden
Hardjokromo, di Tulungagung, Jawa Timur. Disini pula ia bersekolah pertama kali
hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto. Di Mojokerto, ia bersekolah di Eerste
Indlandsche School ( EIS), tempat ayahnya megajar. Kemudian pada Juni 1911 ia
dipindahkan Europeesche Lagere School ( ELS). Soekarno kemudian tumbuh sebagai
remaja yang berani dan percaya diri, termasuk dalam percintaan. Cinta pertamannya adalah si Mien Hessels, seorang noni belanda. Pada waktu itu,
soekarno datang menemui orangtua Mien namun disambut secara kasar. Sejak saat
itu, Soekarno jera dalam memikat hati perempuan. Pada 1915, Soekarno
menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS di Surabaya.
Ia diterima karena dibantu oleh H.O.S Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam.
Bahkan Soekarno diperbolehkan untuk tinggal di rumahnya.
Menjelang masa akhir di Surabaya, Soekarno menikah dengan
Siti Utari, putri Tjokroaminoto. Pernikahan itu ternyata hanyalah permintaan
dari saudara Tjokroaminoto. Soekarno menikahi Utari dengan cara yang disebut
“Kawin Gantung”. Setelah menikah dengan Utari, Soekarno pergi ke Bandung untuk
melanjutkan studi di Technische Hoogeschool dengan mengambil jurusan teknik
sipil. Namun ia tidak mengajak utari untuk ikut ke Bandung. Soekarno lalu
dijemput oleh Haji Sanusi lalu dibawa ke rumahnya. Di sinilah pertama kalinya
Soekarno melihat Inggit Ganarsih, istri Haji Sanusi. Ia kemudian dekat dan
menyukai Inggit Ganarsih. Jalinan hubungan itu semakin serius sehingga Soekarno
dan Inggit berterus terang kepada Haji Sanusi
dan Tjokroaminoto. Pernyataan pun diberikan, Haji Sanusi menceraikan
Inggit dan Soekarno menceraikan Utari dengan seizin Tjokroaminoto. Utari akhirnya
menjadi janda di usia sangat muda dan dalam keadaan masih perawan.
Soekarno menikah
dengan Inggit pada tahun 1923. Soekarno dinyatakan lulus ujian insinyur pada 25
Mei 1926 dari Technische Hoogeschool. Setamat kuliah, Soekarno sendiri aktif dalam
pergerakan anti-kolonialisme, termasuk berjuang demi kemerdekaan melalui
organisasi yang didirikan bersama-sama kawannya, yaitu Partai Nasional
Indonesia. Ketika Soekarno ditangkap oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda
dan dihukum di Penjara Banceuy, Bandung, Inggit tetap setia. Ia rajin
mengunjungu dan mengirim makanan untuk suaminya. Inggit secara
sembunyi-sembunyi menjadi penghubung bagi suaminya dan para aktivis lain.
Semasa hidup di penjara, Inggit selalu membantu Soekarno lewat benda-benda yang
berisi kode tertentu. Niat inggit untuk mendampingi Soekarno selama di
pengasingan benar-benar diwujudkannya. Di masa-masa sulit inilah ia menjadi
peredam dan tempat berteduh bagi jiwa Soekarno yang kesepian dan tertekan
karena perjuangannya untuk memerdekakan bangsanya harus terhenti entah sampai
kapan. Meskipun ada Inggit yang selalu menemani Soekarno ketika dalam keadaan
sulit, mereka juga tidak dikaruniai anak, sehingga mereka mengangkat dua orang
anak, yaitu Ratna Djuami dan Kartika.
Pada 1934-1938, Soekarno dan keluarganya, yaitu
Ibu Amsi(ibu mertua), Inggit Garnasih, dan Ratna Djuami diasingkan di Pulau
Bunga. Keadaan mulai berubah saat di Bengkulu. Selama di pengasingan ini,
Inggit mengetahui bahwa suaminya menyukai seorang gadis bernama Fatmawati.
Soekarno bermaksud menikahi Fatmawati dengan alasan ingin mempunyai keturunan.
Satu-satunya yang tidak bisa diberikan Inggit kepada suaminya. Pertengkaran
hebat terjadi dalam rumah tangga mereka. Hari silih berganti, hubungan rumah
tangga mereka pun juga tidak bertambah baik, tetapi bertambah semakin renggang
karena belum ada kata sepakat antara mereka. Pertengkaran Soekarno dan Inggit
ternyata dibawa sampai mereka pindah ke Jakarta pada tahun 1942. Akibat
pertengkaran yang tidak kunjung usai dan Soekarno tampak terbebani dengan
masalah itu, Ratna Djuami dan Asmara Hadi(suami Ratna Djuami yang dinikahkan
pada tahun 1941) memohon agar Inggit merelakan Soekarno menikahi Fatmawati.
Inggit minta diceraikan dan menolak dimadu. Sebagai bentuk pertanggungjawaban
Soekarno mencarikan Inggit sebuah rumah di Bandung. Di hari terakhir mereka
bertemu, Soekarno menemani Inggit kemanapun ia pergi sampai Soekarno
mengucapkan selamat tinggal kepada Inggit. Setelah bercerai dengan Inggit,
Soekarno menikahi Fatmawati pada Juni 1943. Soekarno menikahi Fatmawati secara
“Nikah Wakil”. Itu karena Fatmawati berada di Bengkulu sedangkan Soekarno
berada di Jakarta. Setelah resmi menikah, Fatmawati menyusul Soekarno ke
Jakarta. Sebulan kemudian Fatmawati dikabarkan hamil. Mereka sangat gembira
karena Soekarno akhirnya mempunyai keturunan. Putra pertama mereka bernama
Muhammad Guntur Soekarnoputra lahir pada tahun 1944. Orang tua Soekarno pun
ikut bahagia tetapi akhirnya Raden Soekemi(Ayah Soekarno) juga jatuh sakit. Pada
tanggal 8 Mei 1945, Soekemi akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya lalu
Nyoman Rai Srimben(Ibu Soekarno) pindah ke Blitar dan meninggal dunia pada
tanggal 12 September 1958.
Soekarno dan Fatmawati mengawali
kehidupan mereka di tengah kecamuk Perang Dunia II. Fatmawati juga turut andil
dalam kegiatan politik yang dijalani oleh suaminya. Fatmawati menghadiri Sidang
BPUPKI ketika Soekarno pada 1 Juni 1945 membacakan rumusannya. Kondisi politik
semakin tegang, pihak Jepang diambang kekalahan. Para pemuda segera mendesak
Soekarno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan. Tentunya usulan itu mendapat
penolakan dari golongan tua. Lalu Soekarno dibawa ke Rengasdengklok bersama
Fatmawati dan Guntur oleh golongan muda. Setelah dijemput oleh Soebardjo, Soekarno
bersama orang-orang yang ada merumuskan teks di kediaman Laksamana Maeda. Esok
harinya teks proklamasi dibacakan oleh Soekarno setelah mengalami
perdebatan-perdebatan. Bendera pusaka merah putih yang dijahit oleh Fatmawati
berkibar setelah dibacakan proklamasi.
Sehari setelah proklamasi
kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. PPKI bersidang. Mereka menetapkan Soekarno
sebagai presiden pertama dan menjadikan Fatmawati sebagai “First Lady”. Situasi keamanan ibukota semakin membahayakan. Maka
pada tanggal 4 Januari 1946, Presiden dan Wakil Presiden memutuskan untuk
pindah ke Yogyakarta demi keselamatan para pemimpin negara. Di Yogyakarta,
keluarga Soekarno tinggal di Istana Kepresidenan di Gedung Agung. Banyak
terdapat tokoh-tokoh politik yang bertempat tinggal maupun yang belajar tentang
politik. Selama di Yogyakarta, Fatmawati tidak saja berperan sebagai pengatur
rumah tangga kepresidenan yang setiap saat kedatangan tamu yang silih berganti.
Tetapi ia juga menemani Soekarno pergi kemana pun. Ketika mendampingi Soekarno
pergi untuk kunjungan kenegaraan ke luar negeri, Fatmawati sering kali mengisi
acara di negara tujuan.Fatmawati sebagai Ibu Negara pun tidak mencerminkan
kehidupan yang glamor, tetapi justru lebih menunjukkan kesederhanaan
Semasa di Yogyakarta, Fatmawati
memiliki kenangan manis bersama Soekarno. Mereka beroncengan sepeda menjelajahi
area pertanian. Sesekali mereka melintasi padang tebu Madukismo. Soekarno juga
sering mengunjungi para petani dan memberikan wejangan tentang masalah
pertanian. Sesekali juga diselipkan perbincangan tentang senangnya menghirup
udara bebas sebagai bangsa merdeka. Dan juga memberitahu tentang adanya berita
yang menyebutkan bahwa sekutu sudah mendarat di Indonesia. Setelah selesai dari
satu tempat, Soekarno beranjak ke lain tempat untuk memberikan
wejangan-wejangan kepada para petani lain. Kebersamaan itu terganggu ketika
terjadi Agresi Militer II pada 1948. Ibu Kota Yogyakarta diserang oleh Belanda.
Pada akhirnya Soekarno kembali berkumpul dengan keluarganya yang terpisah
akibat Agresi Militer II ditahun 1951
Soekarno mendapat jadwal
kunjungan ke Salatiga. Semua warga Salatiga sangat antusias untuk menyambutnya.
Disana Soekarno berpidato seperti pada umumnya. Usai berpidato, Soekarno
beserta rombongan segera menikmati hidangan makan siang. Pertemuan Soekarno dan
Hartini berlangsung setelah Wali Kota Salatiga memanggilnya karena Soekarno
ingin mengetahui orang yang memasakkan hidangan itu. Sejak pertemuan itu,
Soekarno jatuh hati kepada Hartini. Kemudian Soekarno membuat surat yang
ditujukan kepada Hartini. Soekarno dan Hartini bertemu di Yogyakarta kembali di
tahun 1953. Sampai akhirnya pertemuan mereka menghasilkan sebuah lamaran dari
Soekarno kepada Hartini. Pada saat itu juga, Fatmawati melahirkan anak
kelimanya. Dua hari selang kelahiran Guruh, Soekarno meminta izin kepada
Fatmawati untuk menikah lagi. Fatmawati juga seperti Inggit, tidak mau dimadu
dan memilih untuk diceraikan. Tetapi Soekarno tidak menginginkan perceraian.
Akhirnya Soekarno dan Hartini menikah. Hartini ditempatkan di Istana Bogor,
tetapi Fatmawati tidak ingin tinggal bersama Soekarno di Istana Merdeka dan
memilih tinggal di Kebayoran Baru. Ia tinggal sendiri disana, meninggalkan
anaknya, menghidupi dengan mandiri, meninggalkan kehidupan sebelumnya dan
merelakan fasilitas yang diterima ketika menjadi ibu negara.
Mosi tidak percaya dikeluarkan
oleh MPRS pimpinan A.H. Nasution pada 1967 dan penunjukan Mayjen Soeharto
sebagai presiden kedua RI, Soekarno menerima surat untuk segera meninggalkan
Istana dalam waktu 2x24 jam. Akhirnya Soekarno memilih untuk pindah ke rumah
Fatmawati yang berada di Kebayoran Baru itu. Soekarno pindah sekaligus memberikan bendera pusaka merah putih ke Fatmawati.
Setelah mengetahui Soekarno menetap di rumah Fatmawati, penguasa Orde Baru
memaksa Soekarno untuk pindah ke Wisma Yaso. Terasing dan terkucilkan ditambah
dengan keadaan sakit ginjal yang membuat Soekarno tambah tersiksa. Ia juga
tersiksa secara batin karena dibuang dari kehidupan sebenarnya. Kondisi
Soekarno semakin melemah. Banyak kerabat datang untuk menjenguknya, tetapi
tidak untuk Fatmawati yang tidak ingin bertemu sampai Soekarno meninggal pada
21 Juni 1970 pun Fatmawati tidak menemui untuk terakhir kalinya.
Keinginan Fatmawati untuk
menyemayamkan di rumahnya berakhir penolakan oleh Soeharto. Fatmawati begitu
terpukul dengan pernyataan tersebut. Soekarno akhirnya disemayamkan di Wisma
Yaso dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Banyak kerumunan orang-orang
berjejal di pinggir jalan, ingin melihat Soekarno untuk terakhir kalinya.
Upacara pemakaman berlangsung hingga malam hari karena masih banyak pelayat
yang ingin mendoakan Soekarno. Begitulah Soekarno “Sang Putra Fajar” yang
sangat dicintai oleh rakyatnya, sekaligus juga banyak yang membencinya.
Walaupun sudah tiada, nama Soekarno akan tetap dikenang, diingat karena
perjuangannya, pengorbanannya, dan pengabdiannya yang sudah berhasil
membebaskan Bangsa Indonesia ini dari penjajah.
Kelebihan
:
Menceritakan kisah asmara presiden Soekarno, mulai dari cinta pertama hingga
cinta kesekian kalinya sehingga pembaca mengetahui kehidupan asmara presiden
Soekarno hingga akhir hayatnya. Pembaca seolah-olah dapat merasakan menjadi
tokoh Soekarno di dalam bacaan. Bahasa yang tidak terlalu rumit dan dapat
dipahami pembaca
Kekurangan :
Pengulangan peristiwa di setiap bab menjadikan pembaca juga jenuh akan
peristiwa yang sama dan diulang. Judul
buku kurang merepresentasikan isi
buku karena isi buku berisi kisah cinta Soekarno selama hidup bukan Soekarno
dengan Fatmawati saja. Tampilan cover
buku yang kurang menarik sehingga minat pembaca menjadi kurang.
Sumber : UPT Perpustakaan UNY; Soekarno Fatmawati Sebuah
Kisah Cinta Klasik; Adhe Riyanto [Soekarno Fatmawati]
Komentar
Posting Komentar